Jumat, 04 September 2009

HAKEKAT PUASA

Bulan ramadhan sudah beberapa hari kita jalani. Sebagian ulama berpendapat, Ramadhan adalah bulan agung, bulan mulia, bulan penuh berkah, bulan pengampunan, bulan penuh rahmat dan bulan pembebasan dari api neraka.

Mereka juga berpendapat. Pada bulan ramadhan semua amal ibadah diterima. pahala dilipatgandakan. dosa-dosa dilebur. gerbang-gerbang surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan dikerangkeng. Dalam bulan ini ada satu malam yang disebut lailatul qadar. yang keutamaannya melebihi seribu bulan (QS 97: 1-5)

Selama ramadhan berlangsung, semua umat Islam diwajibkan untuk menjalankan puasa (QS 2: 183), yaitu menahan diri (imsak) dari lapar/haus dan dorongan nafsu.

Keutamaan Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda, "Penghulu bulan adalah Ramadhan dan penghulu hari adalah hari Jumat" (HR ath-Thabrani).

Rasul bersabda, "Andai saja manusia tahu keutamaan Ramadahn, pasti mereka berharap Ramadhan itu selama satu tahun." HR ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi).

Rasul juga bersabda, "Jika datang malam pertama Ramadhan, para dan jin kafir dibelenggu. Semua pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satu pintu pun yang terbuka. semua pintu surga dibuka sehingga tidak ada satu pun yang tertutup. Lalu terdengar suara seruan, "Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari kejahatan,kurangkanlah. "Pada malam itu ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Yang demikian itu terjadi setiap malam (HR at-Tirmizhi dan Ibnu Majah)

Pada bulan ramadhan al-Quran turun. (QS 2: 185). Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, :Allah SWT memuji bulan Ramadhan atas bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah dipilih sebagai bulan turunnya al-Quran." (Ibn Katsir, 1/501).

Pada bulan ramadhan doa-doa dikabulkan. Rasulullah saw.bersabda, "Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka setiap hari pada bulan Ramadhan. Setiap Muslim, jika memanjatkan doa, pasti dikabulkan."(HR al-Bazzar dan al-Haitsami).

Keutamaan puasa. Rasulullah saw bersabda, "Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka" HR Ahmad dan al-Baihaqi).

Rasulullah saw. juga bersabda, "Allah berfirman, "Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. 'puasa adalah perisai. JIka salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah, 'Aku sedang berpuasa, 'Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada Hari Kiamat daripada bau minyak kasturi. Bagi orang berpuasa ada dua kegembiraan; saat berbuka mereka begembira karena berbuka dan saat bertemu dengan Allah mereka bergembira karena puasanya."(HR al-Bukhari dan Muslim).

Puasa akan memberikan syafaat bagi orang yang menjalankannya. Rasulullah saw. bersabda, "Puasa dan al-Quran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada Hari kiamat nanti. Puasa akan berkata, Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat. Karena itu, perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya. 'Al-Quran pun berkata, 'Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karena itu, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya, 'Lalu syafaat keduanya diperkenankan," (HR Ahmad, al-Hakim dan ath-Thabrani).

Orang yang berpuasa akan mendapatkan pengampunan dosa. Rasulullah saw.bersabda, "Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan menharap pahala dari Allah, pasti dosa-dosanya pada masa lalu diampuni," HR al-Bukhari dan Muslim).

Bagi orang yang berpuasa disediakan ar-Rayyan. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama ar-Rayyan. Pada Hari Kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk pintu tersebut kecuali mereka" (HR al-Bukhari dan Muslim).

Berpuasa setelah ramadhan. Puasa (shaum) secara bahasa bermakna al-imsak atau menahan diri dari sesuatu, seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna puasa seperti ini digunakan dalam QS Maryam ayat 26. Adapun secara istilah, puasa adalah menahan diri dari dua jalan syahwat - mulut dan kemaluan - dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahal puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, disertai dengan niat.

Dari pengertian secara bahasa maupun istilah tersebut, jelas puasa hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri/hawa nafsu' dari hal-hal yang telah Allah haramkan; bukan semata-mata menahan diri untuk tidak makan /minum atau berhubungan suami-istri di siang hari. karena itu, esensi puasa sebetulnya adalah tunduk-patuh pada perintah dan larangan Allah SWT. Itulah taqwa, yang memang menjadi target yang harus di raih dari amalan puasa Ramadhan.

Jika demikian, sejatinya pasca Ramadhan sekalipun, hingga datang Ramadhan berikutnya, seorang Muslim yang menhayati esensi puasa akan tetap 'berpuasa' dalam arti, tetap menahan diri atau mengendalikan hawa nafsunya dari hal-hal yang telah Allah haramkan. Jika ia mampu tetap 'berpuasa' pasca Ramadhan, berarti ia telah sukses meraih derajat takwa, sebagai tujuan akhir dari amalan puasanya.

Sayangnya, 'berpuasa' pasca Ramadhan nyatanya tidak selalu bisa dilakukan oleh setiap Muslim. Kebanyakan Muslim selesai 'berpuasa' begitu Ramadhan usai. Mereka kembali dikendalikan hawa nafsu, bukan mengendalikannya. Mereka kembali 'berbuka' dengan hal-hal yang haram, bukan 'imsak' (menahan diri) dari semua itu. mereka kembali bermaksiat, bukan bertambah taat. ini karena, saat Idul Fitri tiba, mereka bukan kembali ke Fitrah (taat kepada Allah), tetapi kembali ke Fatrah (futur). Na'udzu billah!

Sumber: al-wa'ie hal: 32-33 No. 109 Tahun X, 1-30 September 2009

Minggu, 23 Agustus 2009

Memaknai Ramadhan Dalam Kontek dakwah

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian semua bertaqwa kepadaNya“. (Al-Baqarah: 183)

Ayat-ayat tentang puasa (Ayatush Shiyam) yang tersusun secara berurutan dalam satu surah, yaitu surah Al-Baqarah dari ayat 183-187 seringkali difahami hanya dalam konteks peningkatan amaliah ibadah mahdhah. Padahal secara korelatif, ayatush shiyam selain dari sarat dengan ta’limat ilahiyyah dan taujihat rabbaniyah tentang peningkatan ruhiyah dengan penguatan amaliah ibadah, juga sarat dengan nilai-nilai dakwah dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Betapa Ramadhan sangat tepat dijadikan munthalaq dakwah untuk lebih mengintensifkan kembali geliat dan gairah dakwah sehingga makna yang mewarnai kehidupan Ramadhan adalah makna-makna dakwah.

Korelasi ayatush shiyam dengan dakwah

Secara korelatif, ayat-ayat yang mendampingi ayatush shiyam, baik ayat-ayat sebelumnya maupun sesudahnya ternyata berbicara tentang dakwah dalam konteks fiqhul mu’amalah dan hokum hudud. Pendampingan dalam penyusunan seperti ini tentu mustahil tanpa hikmah dan pelajaran yang bisa digali darinya. Ayat 178-182 dari surah Al-Baqarah sebelum ayat puasa ternyata berbicara tentang hokum qishash yang merupakan bagian dari target dan realisasi dakwah, yaitu tegaknya hokum-hukum syariat. Redaksi yang digunakan juga mirip dengan redaksi yang digunakan dalam konteks perintah puasa, “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu (menerapkan) qishash dalam hal pembunuhan”.

Ayat 188 setelah ayat puasa juga berbicara tentang hokum mu’amalah dalam konteks jual beli dan perdagangan, “Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan cara yang bathil”. Padahal mu’amalah yang dijalankan dengan baik dan benar merupakan satu lagi sasaran dakwah yang harus ditegakkan sehingga akan terjamin kehormatan diri, harta dan masyarakat secara keseluruhan.

Lebih ketara lagi pada ayat 190 dan seterusnya yang berbicara tentang perintah perang yang merupakan bagian dakwah yang terbesar dan terberat, “Perangilah oleh kalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian”. Keterkaitan dan korelasi tematis ini menjadi landasan akan pemaknaan bulan Ramadhan dengan makna dakwah disamping makna-makna ibadah dan ukhuwwah.

Ta’amul da’awi di bulan dakwah

Target dari pelaksanaan ibadah puasa yang telah ditetapkan oleh Allah dengan ungkapan pengharapan “la’allakum tattaqun” merupakan jaminan akan peningkatan kebaikan seseorang yang berpuasa dengan benar. Takwa yang diharapkan dari pengalaman menjalani hidup dan kehidupan di bulan Ramadhan bisa dijabarkan sebagai bentuk pembiasaan untuk melakukan amal-amal kebaikan dan pembiasaan untuk meninggalkan amal-amal keburukan. Hasan bin Thalq menyebutkan definisi ini seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Takwa yang ditargetkan ternyata sangat terkait dengan bentuk ta’amul dengan Ramadhan.

Ada beberapa bentuk ta’amul (interaksi) yang bisa diaktifkan selama mengikuti amaliah Ramadhan. Namun salah satu bentuk ta’amul yang seharusnya diperhatikan oleh para da’I adalah ta’amul da’awi selain dari ta’amul ta’abbudi yang menjadi target amaliah kebanyakan orang di bulan Ramadhan. Betapa sejarah Ramadhan masa lalu sarat dengan kegiatan dan aktivitas dakwah. Bahkan kegiatan dakwah terbesar dan terberat justru terjadi di bulan Ramadhan.

Perang Badar yang merupakan perang perdana untuk menunjukkan eksistensi dakwah Islam justru terjadi di bulan puasa. (lihat surah Al-Anfal: 41). Padahal pada saat itu, Rasulullah dan para sahabat hanya mempersiapkan perlengkapan untuk menghadang kafilah dagang Abu Sufyan. Bukan untuk menghadapi pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap. Namun jalan dakwah yang sudah diyakininya tidak mengenal kamus “mundur kembali ke garis start”. Justru dengan modal keyakinan akan janji Allah dan pembuktian akan satu komitmen yang totalitas terhadap dakwah Islam, beliau maju menghadapi berbagai rintangan, tribulasi dan setiap ujian yang menghadang di jalur dakwah. Saat pertempuran semakin sengit, Rasulullah bermunajat, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki agar Engkau tidak disembah selamanya setelah hari ini”.

Pembukaan atau Fathu Makkah yang merupakan perjalanan dakwah terakhir Rasulullah juga terjadi dan memilih Ramadhan sebagai bulan kemenangan dakwah yang gilang gemilang. Ternyata Ramadhan merupakan pilihan yang tepat dan terbaik untuk meraih kemenangan dakwah.

Menjelang Ramadhan tiba, Rasulullah selaku pemimpin para da’i, menyampaikan satu pidato kenegaraan yang bernuansa dakwah, mengajak seluruh umat memanfaatkan bulan Ramadhan sebaik-baiknya, meraih sebanyak-banyaknya keberkahan bulan ini. Berkah dalam arti katsratul khair wal manafi’ banyak kebaikan dan manfaat yang bisa diraih darinya. Dan nantinya, kebaikan dan manfaat itu akan bertambah jika disampaikan kepada orang lain dalam bentuk dakwah yang berkesinambungan. Inilah esensi dakwah yang harus dirasakan selama mengikuti aktivitas Ramadhan.

Ada beberapa target dakwah yang layak untuk dipersiapkan oleh para kader sebagai bekal menghadapi ujian dakwah pasca Ramadhan, diantaranya:

Target menghargai waktu

Ibnul Qayyim rahimahuLlah menegaskan substansi dan nilai waktu dalam kehidupan manusia, “Sebenarnya waktu yang dimiliki oleh manusia adalah umurnya sendiri yang terus berjalan perlahan seperti gerakan awan. Setiap waktu yang digunakan untuk Allah, itulah kehidupan dan umurnya. Sementara itu, waktu yang digunakan selain dengan tujuan tersebut tidak dianggap sebagai waktu (yang berarti) bagi hidupnya. Jika dia terus hidup, maka hidupnya sama dengan kehidupan binatang. Jika dia menghabiskan waktu dalam keadaan lalai, lupa diri, dan membangun harapan-harapan bathil, maka waktu terbaik yang dilaluinya adalah ketika tidur dan menganggur. Maka orang tersebut lebih baik mati daripada terus bertahan hidup”. (Al-Jawab Al-Kafi)

Ungkapan Ibnul Qayyim sangat tepat untuk diperhatikan dalam konteks Ramadhan. Betapa banyak waktu yang terkadang terbiar tanpa aktivitas di bulan ini. Padahal keutamaan yang disediakan oleh Ramadhan memiliki motivasi tersendiri untuk memenuhi waktu demi waktu di bulan ini dengan amal sholeh.

Ibnu Mas’ud radiyaLlahu anhu mengingatkan kepada kita akan penyesalan waktu yang tidak bermanfaat, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu seberat penyesalanku terhadap satu hari dimana matahari sudah tenggelam dan umurku berkurang, namun amal kebaikanku tidak bertambah”.

Dalam konteks dakwah, waktu adalah harta yang paling berharga bagi seorang da’i, karena waktu adalah modal utamanya. Aktivitas dakwah mustahil bisa mencapai tujuan dan merealisasikan sasarannya, kecuali jika ia bisa menggunakan dan mengoptimalkan waktunya dengan sungguh-sungguh. Ramadhan mengajar banyak kepada para da’I akan penting dan berartinya waktu. Bahkan ada waktu yang lebih baik dan lebih besar nilainya dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Dan itu hanya Allah sediakan di bulan Ramadhan.

Target keteladanan

Berdakwah dalam arti menyeru manusia kepada kebaikan, jika disertai dengan penyimpangan perilaku para da’inya merupakan penyakit yang akan menimbulkan kebimbangan dalam diri. Bukan hanya pada diri seorang da’I tetapi berakibat juga terhadap dakwah. Dalam konteks dakwah saat ini, masyarakat sangat menanti dan mendambakan lahirnya teladan yang membuat mereka yakin akan seluruh ajaran Islam. Jika tidak, mereka tidak lagi percaya kepada agama ini setelah terlebih dahulu kehilangan kepercayaan kepada pada da’I ang menyebarkannya. (Muhd. Abduh, Madza Ya’ni Intima’i liddakwah).

Keteladan seorang da’i merupakan pilar utama kesuksesan dakwah. Keteladan Rasulullah saw yang diungkapkan oleh Aisyah ra “akhlaknya adalah Al-Qura’n” merupakan kunci utama kesuksesan dan penerimaan dakwah beliau. Maka Ramadhan merupakan momen penting untuk membangun keteladanan; keteladanan dalam bersikap, bertingkah laku, keteladanan dalam kesabaran, keteladanan dalam beramal dan keteladanan dalam membangun persaudaraan diantara sesame muslim untuk dijadikan sarana dakwah. Semua keteladanan itu ternyata merupakan petunjuk praktis dan aturan main amaliah Ramadhan.

Target wirid harian

Satu ayat yang disisipkan di tengah-tengah ayatush shiyam adalah ayat 186 yang berbicara tentang do’a dan dzikir, “Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permintaan hambaKu jika ia memohon kepadaKu”. Penyisipan ayat ini mengisyaratkan bahwa amaliah Ramadhan hendaklah senantiasa diiringi dengan doa memohon pertolongan dan kekuatan dariNya, apalagi dalam konteks dakwah, sangat tepat jika wirid dan doa ini senantias menghiasi kehidupan para da’i.

Wirid merupakan sarana membersihkan diri dan beribadah kepada Allah sekaligus sebagai bekal selama menempuh perjalanan dakwah. Ada tiga bentuk wirid yang sangat baik untuk diperbanyak di bulan Ramadhan sebagai sentuhan energi dan kekuatan dalam berdakwah; wirid do’a seperti istighfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, tilawah Qur’an dan wirid kalimah thoyyibah lainnya. Wirid robithah untuk memperkuat hubungan bathin diantara sesame da’I sebagai bentuk do’a an dzharil ghayb yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Wirid muhasabah dalam bentuk mengingat dan mengevaluasi seluruh aktivitas dakwah yang dilakukan pada hari itu. Jika ada kebaikan, segeralah mensyukurinya dan jika ada kekurangan dan kekhilafan, segeralah untuk memohon ampunan dan memanjatkan doa kepada Allah, lalu bertobat untuk memperbaiki gerak dakwah di masa yang akan datang.

Wirid-wirid harian ini terasa akan lebih efektif jika dilaksanakan saat menjelang malam hari berbarengan dengan aktivitas qiyamul lail. Kekuatan doa dan wirid akan memperkuat langkah dan azam dakwah “Doa adalah senjata orang yang beriman”. Dan bulan Ramadhan adalah syahrul maghfirah waddu’a.

Target-target da’awi di bulan Ramadhan

Syekh Musthafa Masyhur menekankan akan pentingnya tarbiyah dalam konteks dakwah, “Salah satu prinsip mendasar yang sangat ditekankan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna dan harus kita jaga adalah memberi perhatian terhadap masalah tarbiyah dan aspek ritual. Kedua hal ini ibarat ruh yang ada pada tubuh manusia, baik dalam skala individu maupun dalam skala jama’ah. Imam Hasan Al-Banna rahimahuLlah yakin bahwa seorang muslim yang berpegang teguh dengan sifat-sifat orang yang beriman adalah fondasi utama harakah, pembinaan dan usaha untuk merealisasikan tujuan-tujuan dakwah. Dialah yang membangun keluarga muslim, masyarakat muslim dan Negara muslim. Ketika unsur ini kokoh, maka proses pembangunan akan berjalan setahap demi setahap dengan kokoh dan baik, begitupula sebaliknya”. (Fiqhud Da’wah).

Ramadhan yang dikenal juga dengan syahrul ibadah merupakan bulan untuk memperkuat hubungan dengan Wali dan Pelindung para da’i. karena seorang da’i sejati adalah seorang abid (seorang yang taat beribadah) kepada Allah, taat kepada ajaranNya dan tunduk kepada kebesaranNya. Kekurangan dalam melakukan ibadah, terutama ibadah fardhu akan menghempaskan aktivis dakwah. Bahkan dia akan kehilangan keteladan dalam berdakwah.

Dalam skala keluarga, pembiasaan bangun malam bersama seluruh anggota keluarga di bulan Ramadhan harus menjadi agenda harian yang berkesinambungan pasca Ramadhan sebagai bagian dari komitmen dakwah kita. Kajian-kajian keislaman yang semakin marak merupakan momen yang tidak boleh terlupakan untuk mengisi dengan muatan-muatan dakwah disamping muatan-muatan ruhiyah.

Momen silaturahim yang banyak berlangsung di awal maupun di akhir Ramadhan yang diakhiri dengan momen idul fithri merupakan fenomena yang bisa ditangkap makna dakwah di dalamnya jika kita mampu mengintensifkan nilai-nilai dakwah di dalamnya, selain dari rutinitas yang bisa dijalankan.

Kekerapan seseorang berada di masjid-masjid dan tempat-tempat kebaikan merupakan nilai positif dakwah yang harus ditangkap untuk perluasan dan medan tadrib da’awi. Semuanya merupakan indikasi bahwa Ramadhan memang bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai munthalaq dakwah untuk kembali memaknai kehidupan dakwah kita, mengevaluasi dan mengefektifkan kembali sayap-sayap dakwah sehingga geliat dan bahana dakwah akan lebih terasa intensivitasnya pasca Ramadhan. Semoga makna-makna dakwah Ramadhan lebih banyak ditangkap oleh para aktivis dakwah di jalan Allah.

sumber : dakwatuna.com