Sabtu, 13 September 2008

Marhaban Ya Ramadan

Assalaamu ‘alaikum Wr.Wb. Wahai Saudara-saudaraku tercinta, Tanpa terasa waktu terus bergulir….. dari jam ke jam….hari ke hari…dan bulan berganti bulan….. pada akhirnya kita kembali menemukan dan mendapatkan suatu saat, dimana Allah mengundang dan menjamu seluruh Muslim di dalam suatu pesta besar…. Pesta dimana kita semua dapat sepuas-puasnya mereguk rahmat dan ampunan Allah Pesta dimana kita diberi kesempatan besar untuk berjumpa dengan dengan Sang Pencipta Pesta dimana si fakir, si miskin dan si yatim diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya rizki melalui tangan-tangan kita sebagai orang yang berkecukupan…. Oh…betapa meriahnya pesta tersebut, Dialah bulan Ramadhan……
Tangis haru bercampur gembira meliputi kita semua, sebagai hamba Allah yang selalu merindukan kehadirannya Akankah kita termasuk hamba-Nya yang beruntung? hamba yang menyambut jamuan-Nya dengan penuh persiapan? hamba yang menghadiri jamuan-Nya dengan “Iman” dan “Ihtisab (mengharap ridho-Nya)”? Semoga Allah mendengar dan meng-ijabah pinta dan harapan kita semua….
Saudaraku… aku adalah salah satu teman karibmu dan rekan seperjuanganmu, Sekian lama aku telah mengenal, bertemu, bertegur sapa dan berinteraksi denganmu Tawa canda, senda gurau, bahkan perselisihan, sudah sekian kali kita alami bersama. Saat ini aku sangat menyadari, bahwa setiap kali kekhilafan dan kesalah pahaman yang terjadi adalah semata-mata karena kebodohan, keangkuhan dan kelemahanku sebagai seorang insan biasa, Betapa meruginya diriku, sekiranya di saat aku bersiap mengahadiri jamuan Allah di bulan Ramadhan, masih ada saudara-saudaraku yang terluka hatinya karena kedzaliman tingkah laku dan ucapanku……!!!
Astaghfirullah……, Astaghfirullah……, Astaghfirullah……
Saudaraku, hanya melalui website ini…. disertai dengan segala ketulusan dan kerendahan hatiku….. Aku memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kedzaliman yang telah aku perbuat, Aku memohon maaf atas segala segala prasangka buruk terhadapmu yang pernah terbersit di hatiku selama ini, Kiranya Saudaraku sekalian berkenan mengabulkan permohonanku, Dan Aku bermohon semoga Allah pun mengampuni dosa kita semua….aamiin.
Marhaban yaa Ramadhan…. Insya Allah kami semua akan menyambutmu dengan semangat Iman..
Wassalaamu ‘alaikum Wr.Wb.
Mujianto

Sabtu, 09 Agustus 2008

ALAM SEMESTA

Suatu malam Rasulullah SAW meminta izin kepada istrinya, Aisyah, untuk shalat malam. Dalam shalatnya, beliau menangis. Air matanya mengalir deras. Beliau terus beribadah hingga sahabat Bilal mengumandangkan azan Subuh. Beliau masih menangis saat Bilal datang menemuinya. ''Mengapa Tuan menangis?'' tanya Bilal. ''Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa Tuan baik yang lalu maupun yang akan datang?''  
Nabi menjawab, ''Bagaimana aku tidak menangis, telah diturunkan kepadaku malam tadi ayat ini, 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.'' (Ali 'Imran: 190-191).
Selanjutnya Rasullullah berkata: 
"Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya"

Alam semesta, menunjuk kepada dua ayat di atas, adalah ayat, yaitu tanda atau rambu bagi sujud dan kuasa Allah. Sebagai ayat, alam semesta ini harus dibaca dan dipelajari hingga menimbulkan iman dan kekaguman (khasy-yah) yang makin besar kepada al-Khaliq. Nabi pernah memberikan arahan agar manusia tidak memikirkan Zat Allah, tetapi cukup merenungkan alam ciptaan-Nya. Kata beliau, ''Pikirkanlah ciptaan Allah, dan jangan memikirkan Zat Allah.''
Jadi, ayat-ayat Allah itu ada dua macam. Pertama, ayat-ayat berupa Kitab Suci (qauliyah). Kedua, ayat-ayat berupa alam semesta sebagai ciptaan Allah (kauniyah). Menurut filsuf Muslim, Ibn Rusyd, alam semesta justru merupakan ayat-ayat Allah yang pertama. Dikatakan demikian, karena sebelum Allah SWT menurunkan Kitab Taurat, Injil, dan Alquran, Allah telah menciptakan alam jagat raya ini. Karena alam adalah ayat, maka sebagaimana sepotong firman adalah ayat, maka sejengkal alam juga ayat. 
Sebagai ayat, alam ini selalu bergerak memenuhi tujuan penciptaan. Karena itu, penelitian terhadap alam diduga kuat dapat mengantar manusia menemukan dan meyakini wujud Allah dan kuasa-Nya. Sebagai ayat, alam ini juga mengandung hukum-hukum Allah yang dalam terminologi Alquran dinamakan takdir dan sunatullah. 
Takdir merupakan hukum-hukum Allah yang diberlakukan pada alam fisik (makrokosmos), sedangkan sunatullah merupakan hukum-hukum Allah untuk alam sosial (mikrokosmos). Sebagai hukum-hukum Allah, keduanya, takdir maupun sunatullah, mengandung kepastian dan determinasi. Manusia, karenanya, tidak mungkin dan tidak dapat melawannya. 
Manusia, tidak bisa tidak, harus meneliti dan mempelajari alam dan fenomena alam agar mengenali hukum-hukum Allah yang terkandung di dalamnya. Pengenalan terhadap hukum-hukum Allah itu, dengan sendirinya, akan mendatangkan kemudahan dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia di muka bumi. Alam semesta dengan begitu benar-benar menjadi rahmat dan nikmat, bukan menjadi laknat dan petaka bagi umat manusia.
Wallahu a'lam.
Mujianto